Disdikdaya Kabupaten Probolinggo dan INOVASI Bangun Semangat Guru Wujudkan Pendidikan Inklusif

Berita15 views

Probolinggo,Komposisinews.com – Setiap anak berhak mendapatkan kesempatan belajar, merasa diterima dan berkembang sesuai potensinya. Semangat inilah yang diperkuat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo bersama Program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia), kemitraan Pemerintah Indonesia-Australia melalui sosialisasi pendidikan inklusif bagi guru TK dan SD serta tindak lanjut sosialisasi guru SMP.

Kegiatan yang berlangsung di Aula TK Negeri Pembina II Kraksaan, Senin hingga Rabu (19–21/10/2026) ini menjadi langkah untuk membangun kesadaran bahwa pendidikan inklusif bukan hanya tentang menerima keberagaman peserta didik, tetapi juga menghadirkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan setiap anak.

Pada hari pertama, sebanyak 76 guru TK dari berbagai wilayah di Kabupaten Probolinggo mengikuti pembekalan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam mendampingi anak dengan karakteristik serta kebutuhan belajar yang beragam.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Yunita Nur Laili didampingi Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Eksi Wulandari, Analis Kebijakan Ahli Muda Massajo dan District Officer INOVASI Kabupaten Probolinggo Anwar Sutranggono.

Hadir sebagai narasumber Inclusive Education Specialist dan Fasilitator Inklusi INOVASI Jakarta Eni Martina, Kepala SDN Srandil Ponorogo Budi Cahyono serta tim Unit Layanan Disabilitas (ULD) Disdikdaya Kabupaten Probolinggo.

Dalam sambutannya, Sekretaris Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Yunita Nur Laili mengajak para guru untuk menjadikan pendidikan inklusif sebagai komitmen bersama dalam membuka kesempatan belajar bagi seluruh anak. “Setiap anak datang ke sekolah dengan harapan yang sama, yakni diterima, memiliki teman dan merasakan keberhasilan dalam proses belajar,” katanya.

Yunita mengingatkan tidak semua anak berkembang dengan kecepatan yang sama. Ada anak yang membutuhkan penjelasan berulang, waktu lebih panjang untuk memahami Pelajaran atau pendekatan berbeda agar dapat mengikuti kegiatan belajar dengan baik.

“Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kemampuan anak memahami pelajaran dengan cepat, tetapi juga dari kesediaan sekolah mendampingi setiap peserta didik sesuai kebutuhannya,” jelasnya.

Lebih lanjut Yunita menekankan, memberikan perlakuan adil tidak selalu berarti memberikan hal yang sama kepada semua anak. Guru perlu memahami kebutuhan masing-masing peserta didik agar setiap anak memperoleh kesempatan yang setara untuk belajar dan berpartisipasi.

“Saya mendorong guru membangun budaya sekolah yang menghormati perbedaan, menggunakan bahasa yang baik serta menghindari sebutan yang merendahkan. Guru diharapkan tidak terburu-buru memberikan label kepada anak, melainkan mengamati potensi dan kesulitannya, mendengarkan penjelasan orang tua serta berkoordinasi dengan pihak yang berkompeten jika dibutuhkan,” terangnya.

Dalam pembelajaran sehari-hari terang Yunita, guru dapat melakukan penyesuaian melalui instruksi yang jelas dan bertahap, penggunaan media yang tepat, pemberian waktu sesuai kebutuhan serta kesempatan bagi anak untuk menunjukkan pemahamannya dengan cara yang beragam.

“Saya mengingatkan pentingnya kesinambungan layanan pendidikan dari TK, SD hingga SMP. Dukungan yang diberikan kepada anak perlu terus berlanjut meskipun mereka berpindah jenjang Pendidikan,” tegasnya.

Yunita berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai forum berbagi pengetahuan. Setiap sekolah perlu menindaklanjutinya melalui langkah konkret, mulai dari mengenali kebutuhan peserta didik, menentukan perbaikan pembelajaran, membagi tanggung jawab hingga mengevaluasi perkembangan anak.

“Saya memahami bahwa mendampingi keragaman kebutuhan anak bukan pekerjaan mudah. Namun, kita tidak harus menunggu mampu melakukan segala hal untuk mulai memperbaiki satu hal,” pesannya.

Sementara District Officer INOVASI Kabupaten Probolinggo Anwar Sutranggono menyampaikan sosialisasi ini menjadi langkah positif untuk meningkatkan pemahaman dan kompetensi pendidik PAUD, SD dan SMP dalam memberikan layanan pendidikan yang adil, ramah dan sesuai kebutuhan setiap anak.

“Materi yang diberikan mencakup konsep pendidikan inklusif, asesmen fungsional untuk mengenali potensi dan kebutuhan dukungan anak serta strategi pembelajaran melalui komunikasi adaptif, regulasi diri dan pemberian bantuan secara bertahap,” ujarnya.

Anwar berharap, pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan dapat diterapkan di lingkungan sekolah dengan melibatkan guru, kepala sekolah, orang tua dan pemangku kepentingan lainnya. “Kolaborasi ini penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung perkembangan setiap anak,” tambahnya.

Dampak positif pembekalan ini juga dirasakan para peserta. Guru TK Dharma Bhakti Desa Pajurangan Kecamatan Gending Ellyzabeth Evelyn mengaku memperoleh wawasan baru untuk menghadapi dan mendampingi anak berkebutuhan khusus.

“Dengan adanya materi dari Safari Inklusif ini, kami mendapatkan pengetahuan yang lebih luas. Ketika nantinya memiliki siswa inklusi, kami sudah mempunyai bekal untuk mendampingi mereka sehingga hak anak mendapatkan layanan pendidikan dapat terpenuhi dengan baik,” ungkapnya.

Vivien panggilan akrab Ellyzabeth Evelyn menegaskan lembaganya terbuka terhadap pendidikan inklusif. Namun, ia berharap sekolah yang menangani anak dengan kebutuhan pendampingan lebih kompleks juga mendapatkan dukungan tenaga pendidik yang memiliki kompetensi khusus. “Peningkatan kapasitas guru perlu dilakukan secara berkelanjutan agar sekolah semakin siap memberikan layanan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik,” tuturnya.

Pengalaman serupa disampaikan guru TK Negeri Pembina Sumberasih Terza Travelancya DP. Ia menilai sosialisasi tersebut memperluas pemahaman guru bahwa kebutuhan khusus seorang anak tidak selalu terlihat dari kondisi fisiknya.

“Melalui kegiatan ini, pemikiran kami semakin terbuka dalam memahami anak berkebutuhan khusus. Pendidikan inklusi bukan hanya tentang anak yang memiliki hambatan penglihatan atau berbicara, tetapi juga anak dengan karakteristik tertentu yang tidak selalu terlihat secara fisik,” terangnya.

Terza menjelaskan, selama ini pihaknya berupaya memenuhi kebutuhan belajar anak dengan memanfaatkan sarana yang tersedia, salah satunya permainan balok. Setelah mengikuti sosialisasi, ia mendapatkan tambahan wawasan mengenai alternatif permainan edukatif yang dapat membantu anak lebih fokus dan nyaman saat belajar.

“Saya berharap pembekalan ini dilanjutkan dengan pelatihan secara berkala serta dukungan Guru Pembimbing Khusus (GPK) bagi lembaga pendidikan yang membutuhkan. Dengan dukungan itu, guru diharapkan dapat lebih optimal mendampingi anak tanpa mengabaikan kebutuhan peserta didik lainnya di dalam kelas,” tegasnya.

Melalui kolaborasi Disdikdaya Kabupaten Probolinggo dan Program INOVASI, pendidikan inklusif diharapkan semakin dipahami sebagai tanggung jawab bersama. Peningkatan kompetensi guru, penyesuaian metode pembelajaran serta keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dalam mewujudkan sekolah yang ramah bagi semua anak.

Pada akhirnya, pendidikan yang berkualitas bukan hanya tentang seberapa cepat seorang anak memahami pelajaran, melainkan juga tentang seberapa besar sekolah memberikan ruang bagi setiap anak untuk bertumbuh. Dengan kepedulian, kesabaran dan kemauan untuk terus belajar, guru dapat menjadi penggerak perubahan agar tidak ada anak yang kehilangan kesempatan untuk berkembang. ( Fahrul Mozza )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *