JAKARTA,Komposisinews.com – 30 Agustus 2026 – Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) menandai usia ke-21 dengan manuver besar. Tidak lagi sekadar organisasi hobi pendakian, FMI di bawah komando Ketua Umum Mayjen (Purn) Buyung Lalana, SE menyatakan perang terhadap dua musuh pendaki: sampah dan kecelakaan.
Mengusung doktrin “ZERO WASTE, ZERO ACCIDENT – Solid Berbudaya, Profesional Berdaya”, Buyung Lalana menegaskan FMI harus naik kelas menjadi kekuatan profesional yang mengintegrasikan kemampuan gunung dan laut.
“FMI tidak boleh jadi sekadar komunitas nongkrong. Saya ingin FMI menjadi rumah idealis yang bermartabat. Kita ini pendaki, kita pelaut, kita abdi negara. Tugas kita bukan cuma menaklukkan puncak, tapi menaklukkan masalah bangsa,” tegas Mayjen (Purn) Buyung Lalana di Jakarta, Sabtu (30/8).
DOBRAK BARU: DARI PUNCAK GUNUNG KE TENGAH LAUT
Buyung yang juga dikenal sebagai pendaki dan pelaut senior ini membongkar paradigma lama mountaineering. Menurutnya, keahlian yang diajarkan para “profesor gunung” harus bisa diimplementasikan di dua medan.
“Di gunung kita jaga kelestarian. Di laut kita harus bisa rescue, perbaiki kapal, kembangkan perikanan, dan kuasai ilmu kelautan. Itu satu napas. Itu FMI yang baru. Gunung dan laut adalah dua sisi mata uang kedaulatan,” ujarnya tajam.
BOM WAKTU SDM: LIBATKAN MANTAN TNI UNTUK DAPAT INCOME
Poin paling terarah dari pidatonya adalah soal kesejahteraan anggota. Buyung menyoroti potensi besar purnawirawan TNI dan pegiat alam yang selama ini belum terkelola secara profesional.
“Kita punya ratusan SDM hebat, mantan TNI yang kemampuan survival gunung-lautnya di atas rata-rata. Jangan dibiarkan menganggur. FMI akan jembatani mereka dengan kementerian untuk membuat regulasi, membuka lapangan kerja di sektor wisata bahari, budidaya, dan pelatihan profesional. Dari hobi harus jadi income. Dari income kita mengabdi untuk negara,” paparnya.
Ia menegaskan, FMI akan aktif melobi kementerian terkait untuk memastikan pegiat alam mendapatkan perlindungan regulasi dan program pemberdayaan yang konkret, bukan sekadar seremoni.
Di akhir, Buyung meletakkan fondasi ideologis FMI 21 tahun ke depan dengan satu kata kunci: Solidaritas.
“21 tahun bukan waktu sebentar. Kuncinya satu: solid, saling menjaga, dan peduli. Kalau itu hilang, FMI selesai. Kalau itu kita pegang, FMI akan terus memberi manfaat nyata bagi lingkungan, keselamatan, dan rakyat,” pungkasnya.
Tiga Manifesto Buyung Lalana untuk FMI:
1. Gunung & Laut untuk Indonesia: “Pendaki di gunung, pelaut di laut. FMI hadir untuk memajukan keduanya demi Indonesia yang berdaya dan bermartabat.”
2. Dari Kapabilitas ke Kesejahteraan: “Kapasitas para mantan TNI dan pegiat alam harus kita manfaatkan. Dari gunung dan laut, kita ciptakan ilmu, wisata, dan penghidupan.”
3. Solidaritas Harga Mati: “Solid, menjaga, dan peduli. Itulah kekuatan FMI untuk 21 tahun ke depan.”
Tentang FMI
Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) adalah wadah pemersatu pegiat alam bebas Indonesia yang fokus pada pengembangan kapabilitas gunung-hutan dan kemaritiman, keselamatan pendakian, dan kelestarian lingkungan.
Narahubung & Reportase: Faaz












