Probolinggo,Komposisinews.com -Peluang bisnis makanan beku atau frozen food semakin dilirik sebagai salah satu jalan untuk meningkatkan nilai jual produk usaha mikro. Melihat peluang tersebut, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Probolinggo menggelar pelatihan pengolahan makanan berbahan dasar daging unggas bagi pelaku usaha mikro.
Kegiatan pelatihan olahan frozen food tersebut berlangsung di Aula Pantai Bohay Desa Binor Kecamatan Paiton, Senin (10/8/2026). Sebanyak 50 pelaku usaha dari Kecamatan Paiton, Kraksaan dan Besuk mengikuti kegiatan yang diarahkan untuk meningkatkan keterampilan sekaligus membuka peluang pengembangan bisnis makanan olahan.
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mendorong pelaku UMKM agar tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga mempunyai kemampuan mengembangkan usaha secara lebih profesional.
Kegiatan tersebut dibuka Wakil Ketua I Dekranasda Kabupaten Probolinggo Ning Umi Haniah Fahmi AHZ didampingi Sekretaris Dekranasda Kabupaten Probolinggo Galuh Hudan Syarifuddin, Kepala DKUPP Kabupaten Probolinggo Sugeng Wiyanto dan Camat Paiton Abdul Bari.
Wakil Ketua I Dekranasda Kabupaten Probolinggo Ning Umi Haniah Fahmi AHZ mengatakan pengolahan daging menjadi produk makanan beku dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan apabila bahan baku hanya dijual atau diolah dalam bentuk makanan yang tidak tahan lama.
“Daging ayam, sapi maupun ikan mempunyai potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk siap masak. Dengan teknik pengolahan dan pengemasan yang tepat, produk tersebut memiliki masa simpan lebih panjang sehingga peluang pemasarannya semakin luas,” katanya.
Ia mendorong pelaku usaha untuk melihat frozen food bukan sekadar sebagai produk makanan, tetapi sebagai peluang bisnis yang dapat dikembangkan hingga ke luar daerah. Salah satu faktor penting dalam pengembangan makanan beku adalah sistem pengemasan dan distribusi. Penggunaan ice gel dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu menjaga kondisi produk ketika dikirim ke konsumen di wilayah yang lebih jauh.
“Dengan model bisnis tersebut, pelaku UMKM Kabupaten Probolinggo tidak harus bergantung pada konsumen lokal. Produk yang mempunyai kualitas, kemasan dan legalitas yang baik berpeluang dipasarkan ke berbagai daerah. Usaha makanan beku mempunyai peluang besar bagi perempuan, khususnya ibu rumah tangga yang ingin membantu meningkatkan pendapatan keluarga,” jelasnya.
Ning Hani mendorong peserta pelatihan tidak berhenti pada produk olahan sederhana. Pelaku usaha dapat menciptakan makanan praktis yang menyesuaikan kebutuhan konsumen modern.
“Salah satu konsep yang menarik adalah membuat makanan dalam bentuk paket lengkap yang berisi sumber karbohidrat, protein dan sayuran. Produk tersebut dapat dikemas sebagai makanan siap santap yang cukup dipanaskan sebelum dikonsumsi,” terangnya.
Ning Hani meminta peserta memanfaatkan seluruh dukungan pemerintah secara maksimal, mulai dari pelatihan, pendampingan hingga akses pemasaran. “Keberhasilan program pemberdayaan UMKM tidak cukup diukur dari terselenggaranya pelatihan. Hal yang lebih penting adalah munculnya produk baru yang benar-benar diproduksi dan dipasarkan secara berkelanjutan,” tegasnya.
Sementara Kepala DKUPP Kabupaten Probolinggo Sugeng Wiyanto menyampaikan pelatihan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pelaku usaha mikro.
“Peserta diharapkan tidak hanya mendapatkan keterampilan baru, tetapi mampu menerapkannya menjadi kegiatan usaha yang menghasilkan pendapatan tambahan bagi keluarga,” ujarnya.
Sugeng menerangkan DKUPP juga menyiapkan pendampingan lanjutan setelah pelatihan. Salah satunya berkaitan dengan pengurusan legalitas usaha. Pelaku usaha yang membutuhkan bantuan dalam melengkapi perizinan dapat memperoleh fasilitasi tanpa biaya.
“Langkah tersebut penting karena legalitas menjadi salah satu modal utama agar UMKM dapat berkembang dan masuk ke pasar yang lebih luas. Selain legalitas, DKUPP juga membuka akses bagi pelaku usaha yang membutuhkan tambahan modal,” tegasnya.
Menurut Sugeng, pemerintah daerah telah membangun komunikasi dengan sejumlah lembaga perbankan yang menyediakan pembiayaan bagi pelaku usaha. Peserta yang membutuhkan permodalan dapat berkonsultasi dengan DKUPP untuk mendapatkan pendampingan dan akses kepada pihak perbankan.
“Dukungan tersebut diharapkan membuat pelaku usaha tidak berhenti pada tahap produksi rumahan, tetapi mulai membangun bisnis dengan perencanaan yang lebih matang,” tambahnya.
Sedangkan Camat Paiton Abdul Bari menambahkan wilayah Kecamatan Paiton memiliki potensi UMKM yang cukup besar. Pemerintah Kecamatan Paiton sebelumnya telah mengusulkan sejumlah produk unggulan daerah untuk dikembangkan.
“Predikat UMKM naik kelas tidak hanya ditentukan oleh meningkatnya omzet. Legalitas, kualitas produk, inovasi serta kemampuan menggunakan teknologi digital juga harus menjadi perhatian pelaku usaha. Karena itu, pelaku UMKM didorong mulai memanfaatkan digital marketing untuk memperluas jangkauan pemasaran,” ungkapnya.
Menurut Abdul Bari, produk yang berkualitas juga harus didukung dengan proses produksi yang higienis serta informasi produk yang lengkap. “Legalitas seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikasi halal menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan ketika usaha mulai berkembang,” tegasnya.
Abdul Bari juga mendorong adanya kolaborasi dengan berbagai pihak untuk membantu pelaku UMKM memenuhi kebutuhan tersebut. Salah satunya melalui pusat bisnis Universitas Nurul Jadid maupun program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). “Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membantu pelaku usaha yang masih mengalami kendala dalam pengurusan legalitas maupun pengembangan produk,” harapnya.
Ia berharap pelatihan frozen food ini tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari. Peserta diharapkan segera mempraktikkan keterampilan yang diperoleh, menciptakan produk, memperbaiki kemasan, mengurus legalitas dan mulai memperluas pemasaran. “Penguatan UMKM tersebut sejalan dengan target pemerintah daerah untuk mendorong semakin banyak pelaku usaha naik kelas,” pungkasnya.
(Fahrul)












