Probolinggo,komposisinews.com- Komunitas Regu Pengendali Hama Penyakit Tumbuhan (RPHPT) Bayu Perkasa Kabupaten/Kota Probolinggo menggelar pelatihan praktik pembuatan bokasi padat plus Trichoderma di rumah Misnaton Desa Kropak Kecamatan Bantaran, Senin (4/5/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong pertanian ramah lingkungan melalui pemanfaatan bahan organik lokal untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
Pelatihan tersebut diikuti seluruh anggota RPHPT Bayu Perkasa, POPT, Sekretaris Kecamatan Mohammad Anis bersama anggota Polsek dan Koramil Bantaran, Kepala Desa Kropak, BPP Bantaran hingga Bidang Peternakan Dinas Pertanian (Diperta) Kabupaten Probolinggo.
Ketua RPHPT Bayu Perkasa Ika Ratmawati mengatakan komunitas RPHPT diharapkan menjadi pelopor gerakan pertanian berkelanjutan dengan mengedepankan pemanfaatan agens hayati dan menekan penggunaan bahan kimia sintetis.
“Kami berharap komunitas ini bisa menjadi wadah dan pelopor dalam gerakan mengembalikan agroekosistem dengan memanfaatkan musuh alami dan agens hayati serta menekan penggunaan bahan kimia sintetis agar ekosistem tetap lestari dan berkesinambungan,” katanya.
Ika berharap melalui pelatihan tersebut para anggota RPHPT mampu memproduksi pupuk organik secara mandiri dengan biaya lebih murah dan hasil lebih baik. “Setelah pelatihan ini diharapkan seluruh anggota RPHPT dan undangan lainnya semakin yakin bisa memproduksi pupuk sendiri dengan biaya murah dan hasil yang lebih baik,” harapnya.
Dukungan terhadap gerakan pertanian organik tersebut juga disampaikan Camat Bantaran Junaedi melalui Sekretaris Kecamatan Mohammad Anis. Menurutnya, kegiatan ini diharapkan mampu mengubah pola pikir petani agar tidak terus bergantung pada pupuk dan pestisida kimia.
“Kami berharap dukungan terhadap komunitas RPHPT ini dapat mengubah mindset petani dari ketergantungan bahan kimia untuk kembali menggunakan bahan organik, khususnya di Kecamatan Bantaran,” ujarnya.
Sementara Kortikab POPT Pangan Hortikultura Machmud menegaskan sistem perlindungan tanaman harus berbasis Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan mengutamakan manajemen tanaman sehat dan pengayaan unsur organik. “Sistem perlindungan tanaman harus berbasis PHT dengan mengutamakan manajemen tanaman sehat dan memperkaya unsur organik,” tegasnya.
Koordinator BPP Bantaran M. Teguh Aristo Adhi melalui PPL Desa Kropak Eko Siswanto menyampaikan dukungan penuh terhadap gerakan pertanian organik yang dinilai mampu menekan biaya produksi petani.
“Kebiasaan penggunaan bahan kimia oleh petani sudah sangat tinggi dan membuat biaya produksi besar. Karena itu kami mendukung penuh gerakan pertanian organik yang ramah lingkungan dan lebih hemat biaya,” urainya.
Selain praktik pembuatan bokasi, kegiatan ini juga membahas pentingnya pemahaman kondisi cuaca terhadap perkembangan hama dan penyakit tanaman. Anggota RPHPT sekaligus pakar cuaca Cipto Waluyo menjelaskan faktor lingkungan memiliki pengaruh besar dalam keberhasilan budidaya tanaman.
“Perkembangan hama dan penyakit dipengaruhi oleh lingkungan, patogen dan tanaman. Karena itu kondisi musim kemarau maupun penghujan penting dipelajari petani,” jelasnya.
Pelatihan dipandu langsung oleh Misnaton, petani Desa Kropak yang juga anggota RPHPT Bayu Perkasa. Bokasi dibuat dari kombinasi kotoran ternak sapi atau kambing dengan jamur Trichoderma sp sebagai agens pengendali hayati untuk menekan patogen tular tanah.
“Kombinasi ini mampu menghasilkan pupuk hayati yang kaya bahan organik dan bermanfaat memperbaiki struktur tanah serta meningkatkan ketersediaan unsur hara,” terangnya.
Bahan yang digunakan dalam pembuatan bokasi meliputi 1 ton kotoran ternak kering usia minimal tiga bulan, dedak 50 kilogram, serbuk gergaji 50 kilogram, molase satu liter, dekomposer satu liter, air 50 liter dan Trichoderma. Seluruh bahan difermentasi selama 14 hari sebelum siap diaplikasikan.
“Penggunaannya cukup sederhana, bisa dicampurkan sebagai media tanam maupun diberikan satu genggam per lubang tanam sebagai pupuk dasar atau pupuk tambahan,” pungkasnya.
fahrul mozza












