Surabaya,Komposisinews.com – Komunitas Gak Mau Tau Community (GMTC) Surabaya mematangkan persiapan launching resmi dalam rapat pemantapan yang digelar hari ini. Acara launching dijadwalkan berlangsung di Convention Hall Jalan Arief Rahman Hakim 131 Surabaya dan akan dikemas dengan nuansa kekeluargaan serta kepedulian sosial.
Dalam rapat tersebut, panitia menyusun komposisi rangkaian acara yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat. Salah satu agenda utama adalah santunan anak yatim sebagai bentuk komitmen GMTC untuk hadir dan berbagi dengan sesama.
Sinyo selaku ketua GMTC Surabaya mengatakan, semangat “Gak Mau Tau” bukan berarti apatis, melainkan tidak mau terjebak pada hal-hal yang tidak produktif. “Gak Mau Tau drama, Gak Mau Tau ribet. Tapi kami Gak Mau Tau kalau nggak peduli sama sekitar. Karena itu launching ini kami barengi dengan santunan anak yatim,” ujarnya.

Selain santunan, acara launching juga akan diisi dengan, kopi darat kreatif, open mic, dan Gak Mau Tau Challenge yang dikemas santai khas anak muda Surabaya. Convention Hall dipilih sebagai lokasi karena memiliki kapasitas yang memadai dan mudah diakses oleh anggota serta tamu undangan.
GMTC Surabaya menegaskan bahwa komunitas ini terbuka untuk semua anak muda yang ingin berkumpul, berdiskusi, dan berkarya tanpa batasan formalitas. Identitas visual dan tagline resmi komunitas juga akan diperkenalkan saat hari-H. Jum’at ( 24/4/26).
Dengan komposisi acara yang memadukan kreativitas dan kepedulian sosial, launching GMTC Surabaya diharapkan menjadi awal gerakan positif yang merangkai kebersamaan dengan Komunitas se-Jawa Timur.
Acara tersebut dihadiri komunitas se-Jawa Timur, Mama Ajeng penasehat GMTC menyampaikan,” bahwa GMTC harus menjadi ruang yang mempersatukan, bukan memecah belah. “Nama Gak Mau Tau itu justru tantangan. Jangan sampai kita gak mau tau sama masalah sosial di sekitar. Justru lewat komunitas ini, kita harus lebih peka dan lebih bergerak,” tegasnya.
Beliau juga berpesan agar GMTC tetap menjaga komposisi kegiatan yang seimbang antara hiburan, edukasi, dan aksi sosial. Menurutnya, kekuatan komunitas terletak pada kekompakan dan konsistensi dalam memberi manfaat nyata, bukan sekadar ramai di awal.” ucapnya. ( Rangga )












