PROBOLINGGO,Komposisinews.com -Kegiatan halal bihalal yang digelar kelompok KTNA Pertanian Wonomerto di Desa Tunggak Cerme, Dusun Bindung, Kecamatan Wonomerto, membahas lahan yang produktif sampai lahan kurang produktif hingga ancaman hama yang sudah tertangani dengan optimal.
Acara yang dihadiri oleh kelompok tani yang tergabung di KTNA,juga koordinator dan penyuluh pertanian lapangan (PPL), serta dari pupt,PT Petrokimia Gresik juga dari pengawas tebu , halalbihalal ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga forum diskusi terkait kondisi riil pertanian di lapangan. Sejumlah peserta menyoroti tantangan produksi di tengah kondisi tanah yang semakin kritis yang terkait dengan ke asaman tanah dan juga hama seperti tikus kresek walaupun udah tertangani oleh para petugas dan bantuan obat-obatan untuk hama tikus dan herbisida.
PPL Wonomerto menyebut kegiatan ini sebagai upaya memperkuat koordinasi antar petani lewat ktna dan pemangku kepentingan dalam bidang pertanian sekecamatan Wonomerto.
Salah satu narasumber, Yudha, yang menangani sektor tebu, memberikan solusi terbaik jika ada lahan tandus yang untuk tanaman padi dan jagung tidak bisa maka pihak nya siap untuk mengelola atau petani mengharap sendiri lahan nya untuk di tanami tebu,dan kami siap untuk memberikan bantuan bibit tebu secara gratis. Ia mendorong pemanfaatan lahan marginal untuk budidaya tebu dengan teknik perawatan khusus, meski membutuhkan intervensi serius agar tetap produktif.
Dari sisi teknis, perwakilan PT Petrokimia Gresik menekankan pentingnya menjaga keseimbangan pH tanah sebagai faktor utama keberhasilan panen. Penggunaan pupuk non-subsidi juga diperkenalkan sebagai alternatif, meski hal ini berpotensi menambah beban biaya bagi petani kecil.
Sementara itu, Ika Rahmawati dari sektor perkebunan mengingatkan ancaman serius pada tanaman tembakau akibat curah hujan tinggi yang tidak menentu. Kondisi cuaca ekstrem dinilai meningkatkan risiko gagal panen tembakau jika tidak diantisipasi dengan koordinasi intensif antara petani dan penyuluh.bagaimana cara penanganan nya.
Masalah lain yang mencuat adalah serangan hama, terutama tikus kresek di tanaman padi, yang dilaporkan semakin meluas. Palupi, salah satu pihak terkait, meminta kelompok tani aktif melaporkan kondisi lapangan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan terarah.walaupun panen untuk tahun ini meningkat dari ubinan PPL ada yg mencapai 8 ton lebih perhektar dari benih padi Inpari 32 kemarin.
Diskusi ini mengindikasikan bahwa sektor pertanian di Wonomerto tidak hanya menghadapi persoalan teknis, tetapi juga tantangan sistemik yang membutuhkan respons terintegrasi. Tanpa penanganan serius, produktivitas pertanian berpotensi menurun.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama, namun berbagai persoalan yang terungkap menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk menjaga keberlanjutan pertanian di Probolinggo. (Red)






